Ajaran Welas Asih Avalokitesvara Bodhisattva

Yang harus diingat dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Jika orang lain bikin kita susah, anggaplah itu adalah tumpukan rejeki
  2. Mulai hari ini, belajarlah setiap hari menyenangkan hati orang lain
  3. Jika kamu merasa pahit dalam hidupmu dengan suatu tujuan, itulah bahagia
  4. Lari dan berlarilah yang cepat untuk mengejar hari esok
  5. Setiap hari kamu sudah harus merasa puas dengan apa yang kamu miliki saat ini
  6. Setiap kali ada orang yang memberi kamu satu, kamu harus mengembalikannya sepuluh kali lipat
  7. Nilailah kebaikan orang lain terhadap kamu, tetapi hapuslah semua jasa yang pernah kamu berikan untuk orang lain
  8. Dalam keadaan benar kamu difitnah, dipersalahkan, dan dihukum, maka kamu akan mendapatkan pahala
  9. Dalam keadaan salah kamu dipuji dan dibenarkan, itu merupakan hukuman
  10. Orang yang benar kita bela, tetapi orang yang salah kita beri nasehat
  11. Jika perbuatan kamu benar, kamu difitnah dan dipersalahkan, tetapi kamu menerimanya, maka akan datang rejeki yang datang kepadamu berlimpah ruah.
  12. Janganlah selalu melihat kesalahan/mengecam orang lain tetapi selalu melihat diri sendiri, itulah kebenaran
  13. Orang yang baik diajak bergaul, tetapi orang yang jahat dikasihani
  14. Kalau wajahmu senyum, hati kamu senang, pasti kamu akan aku terima
  15. Dua orang saling mengakui kesalahan masing-masing maka dua orang itu akan bersahabat sepanjang masa
  16. Saling menyalahkan, maka akan berakibat putus hubungan
  17. Kalau kamu rela dan tulus menolong orang yang dalam keadaan susah, maka jangan sampai diketahui bahwa kamu sebagai penolongnya.
  18. Jangan membicarakan sedikitpun kejelekan orang dibelakangnya, sebab kamu akan dinilai jelek oleh si pendengar
  19. Kalau kamu mengetahui orang itu berbuat salah, maka tegurlah langsung dengan kata-kata yang lemah lembut hingga orang itu menjadi insaf
  20. Doa dan sembah sujutmu akan aku terima, apabila kamu bisa sadar dan menuruti jalanku

Barang siapa yang memperbanyak dan ikut serta menyebarkan ajaran welas asih avalokitesva Bodhisatva ini akan mendapatkan pahala yang tak terhingga

Vipassana di Vihara Dhammadipa Arama

Periode 18 – 23 JANUARI 2010 aku melakukan vipassana di vihara Dhammadipa Arama, Batu. Vihara itu terletak di daerah batu malang jawa timur. Udara disana sangat dingin dan bersih karena berada di daerah pegunungan dan setiap saat bisa hujan tiba-tiba persiapan payung perlu dilakukan setiap harinya. Di vihara tersebut aku di bimbing oleh bhante Khantidaro dan bhante Viriya. Setiap hari bangun pagi jam 3 lalu melakukan meditasi hingga jam 6. Jam 6 makan pagi hingga jam 7 lalu kami membersihkan diri sampai pukul 8 lalu dilanjutkan meditasi jalan dan meditasi duduk hingga pukul 11. Jam 11 kami makan siang hingga pukul 12. Para samanera, bhikkhu dan yogi (sebutan untuk umat awam yang melakukan vipassana) disana hanya makan sampai petang selanjutnya kegiatan hanya fokus pada meditasi. Jam 12-13 istirahat lalu dilanjutkan jam 14-20 dengan meditasi kombinasi setiap jam antara meditasi jalan dan meditasi duduk. Jam 21 kami semua tidur dan bangun pagi pada jam 3 dan seterusnya. Setiap hari selama 2 minggu ( seharusnya vipassana dilakukan selama 2 minggu tapi karena pertimbangan masalah kuliah dan kerjaan akhirnya aku memutuskan hanya 1 minggu saja) kegiatan yang dilakukan hanya MEDITASI. Selang seling setiap pukul 14:00 ada kegiatan interview dan ceramah. Interview dilakukan untuk memperoleh keterangan dari peserta vipassana dan juga berbagi cerita mengenai kendala selama melakukan vipassana (sharing masalah dan kendala). Kedengarannya simple dan tidak rumit karena bayangan awal meditasi hanyalah duduk bersila. Apa sulitnya hanya duduk diam bersila??? hmm….kalau anda berpikir seperti itu maka cobalah saat ini duduk diam bersila selama 15 menit saja….cobalah 15 menit saja dan rasakan lah meditasi itu tidak semudah bayangan awal. Aku akan berbagi cerita mengenai yang kurasakan selama melakukan meditasi. Saat sudah mulai duduk bersila dengan punggung tegak, kaki dilipat bersila dan kedua tangan di atas pangkuan 2 menit awal rasanya masih biasa saja tapi memasuki 2 menit selanjutnya ada saja yang menganggu entah rasa gatal, lalu diikuti kesenutan di kaki lalu rasa nyeri di punggung dan leher belum lagi pikiran yang entah lari kemana tidak berada pada arena (fokus). Bhante khantidaro menyarankan fokus lah kepada gerak naik turun perut sesuai dengan gerak napas. Aku mengikuti saran beliau dan ternyata tidaklah mudah untuk menjadi fokus. Pikiran ini sulit sekali dikendalikan karena banyaknya faktor penganggu dari luar seperti suara dan juga memori. Meditasi benar-benar tidaklah semudah yang aku bayangkan dan rasanya sangat amat sangat menyiksa karena dibutuhkan kesabaran dan pengendalian pikiran. Pusat kekacauan hidup manusia dikarenakan diperbudaknya manusia oleh pikiran. PIKIRAN harus lah dikendalikan karena pikiran negatif merupakan racun yang sangat ganas bagi kelangsungan hidup manusia. Dalam melakukan meditasi selama 1 minggu disana ketika tidak ada aktifitas lain yang boleh dilakukan (tidak boleh berbicara kecuali kepada pembimbing, tidak boleh membaca, tidak boleh mengaktifkan HP dan peralatan kontak lainnya) memori kita akan muncul kembali. Perbuatan kita dimasa lampau akan bangkit kembali dan pastinya kebanyakan perbuatan buruk kita sehingga timbullah rasa penyesalan dan kesedihan. Tapi semua itu biarkan saja mengalir dan dicatat pada pikiran kita “penyesalan…penyesalan…penyesalan…” lalu saat rasa penyesalan itu lenyap kita catat kembali di pikiran kita ” lenyap…lenyap..” lalu saat sudah lenyap kita fokuskan kembali kepada gerak perut naik turun sesuai dengan napas kita.
Pukul 9 malam ketika kembali ke kuti (tempat istirahat untuk samanera, bhikkhu dan yogi) aku juga diwajibkan untuk memperhatikan aktifitas secara sadar seperti membuka kunci pintu, mendorong pintu dan menutup pintu. Seringkali kita sebagai manusia melakukan kegiatan tanpa sadar jadi disana kita diminta untuk melakukan segala sesuatu secara sadar dan memperhatikan fokus. Kuti bentuknya seperti rumah panggung terbuat dari kayu didalamnya ada 2 tempat tidur dan sebuah meja rendah. Peralatan mandi, payung, peralatan kamar seperti sapu lidi, kemoceng dan sandal kamar sudah disediakan oleh vihara dan semuanya gratis. Setelah melakukan vipassana kita bisa melakukan dana sesuai dengan kemampuan dan keikhlasan hati. Disana tempat yang sangat tenang dan penuh metta (cinta kasih) dan disana aku belajar untuk berteman dengan diri sendiri.
Aku sempat curhat ke bhante mengenai masalah yang aku hadapi dan yang akan selalu kuingat adalah “Jadilah seperti matahari” Aku sempat bertanya-tanya apa maksudnya “matahari?”.
Bhante menuturkan bahwa matahari biarpun dikritik “Panas!”, di omelin, di kata-katain tapi setiap hari tetap bersinar. Aku akan selamanya seperti matahari yang tetap bersinar dan mempunyai prinsip dan tetap fokus pada tugasku. Aku akan menerapkan nasehat itu untuk keluargaku, lingkunganku dan semua sisi kehidupanku. Satu yang terpenting dari makna melakukan Vipassana adalah stay focus! Janganlah diperbudak oleh pikiran. Sabhe satta bhavantu sukhithata (semoga semua mahluk hidup berbahagia) ^_^

Dua bata jelek (Ajahn Brahm)

Beberapa hari belakangan ini saya sedang menikmati sebuah buku Ajahn Brahm ” Si Cacing dan kotoran kesayangannya”. Dibuku itu banyak cerita menarik yang bisa memberikan inspirasi dan motivasi. Salah satu nya yang berjudul Dua bata jelek. Inti ceritanya mengenai ada seorang bhikku yang sedang membangun sebuah tembok. Beliau seorang ilmuwan sebelum menjadi seorang Bhikku dan belum pernah mengurusi masalah pertukangan sebelumnya. Saat membangun sebuah tembok untuk vihara semua bata tersusun dengan rapi (dengan usaha yang sangat keras dan kehati-hatian) tapi tanpa dia sengaja ada 2 buah bata yang tidak tersusun rapi dan membuat tembok tersebut menjadi tidak indah. Dua bata jelek yang sangat dibencinya dan setiap kali ada pengunjung datang ke vihara dia akan sengaja mengalihkan pengunjung-pengunjung tersebut agar tidak melihat ke dua buah bata jelek tersebut. Pada suatu hari ada seorang pengunjung datang dan tanpa bisa dihindari si pengunjung melihat tembok tersebut dan berkata “alangkah indahnya tembok tersebut”. Bhikkhu tadi menjadi bertanya-tanya “apakah mata anda memiliki kerusakan?” dia memperhatikan pengunjung tersebut dengan seksama “apakah anda tidak melihat dua bata jelek yang ada di tembok tersebut?” pengunjung itu berkata ” Ya, saya bisa melihat dua bata jelek itu, namun saya juga bisa melihat 98 batu bata yang bagus.”.
Kesimpulan dari cerita tersebut: Seringkali mata kita hanya terpusat pada dua kesalahan dan terbutakan dari hal-hal lainnya padahal banyak batu bata bagus lainnya. Banyak hal baik yang tidak kita lihat hanya gara-gara kita menemukan setitik kejelekan/keburukan. Seperti hal nya saat kita melihat kekurangan sahabat kita dan memutuskan tali persahabatan hanya gara-gara dua batu bata jelek. Sepasang kekasih putus hanya gara-gara dua batu bata jelek. Apakah menurut anda semua itu sepadan???

Hand in hand never give up

Kemarin Prof. Gerardus Polla ada menayangkan video mengenai pentas tari yang dilakukan oleh 2 orang manusia yang secara fisik tidak sempurna. Yang pria tidak mempunyai kaki kiri dan yang wanita tidak mempunyai tangan kanan. Mereka tidak pernah menyerah, patah semangat, minder, putus asa dengan keadaan mereka tersebut malah mereka berdua berhasil membuat suatu pentas tari yang sangat menakjubkan dan membuat justru image kesempurnaan dimata orang lain yang menonton. Aku juga pernah melihat ada orang yang tidak memiliki ke dua kakinya ikut turnamen lari. Beliau mengenakan kursi roda dan dengan semangat menelusuri setiap lintasan dan akhirnya bisa menjadi juara.
Pelajaran yang bisa aku ambil dari mereka adalah dalam ketidak sempurnaan mereka terus semangat bisa meraih cita-cita mereka dan menunjukkan harga diri serta kebanggaan mereka sebagai manusia yang exist. Mereka bisa bersyukur dengan keadaan mereka walaupun dalam ketidak sempurnaan. Aku merasa seperti tertampar tersadar ternyata dalam karunia Tuhan yang sangat berlimpah ini aku belum mengoptimalkan seluruh kemampuan aku. Kalau saja aku lebih fokus menjalani hidup ini pasti banyak sekali hal-hal positif yang bisa aku lakukan. Seandainya waktu tidur yg terlalu lama aku kurangi…seandainya waktu untuk chatting dengan teman2 aku kurangi…seandainya hanya memikirkan masalah sendiri berlarut-larut aku kurangi…seandainya waktu untuk bersantai aku kurangi…berapa banyak waktu yang aku miliki untuk melakukan sesuatu yang tidak hanya bermanfaat untuk diriku sendiri tapi juga untuk orang lain, mahluk lain dan pada kehidupan ini umumnya.

A small truth to make life 100%

If
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
equal
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Hard Work =98%

Knowledge = 92%

love = 54%

luck = 47%

money = 72%

Every problem has a solution only if we perhaps change our life:

ATTITUDE = 100%

It is our attitude towards Life and Work that makes our Life 100%

How to solve resistance?

By: Prof Dr.Gerardus Polla

5 better steps to response resistance

1. Surface it
Be patient to listen
2. Honor it
appreciate their concern even you do not agree with them
3. Explore it
look for the real opportunities
4.Build a plan for overcoming it
Create solutions that overcome all the real issues
5. Map the solution
identify improvement to changes plan

3 level of Resistance
Level 1:”I do not get it”
Level 2:”I do not like it”
Level 3:”I do not like you”

I Love You

I just want to say
It’s hard to hide this feeling deep inside of my heart
It’s not easy to pretend…
I wish i have chance to say how much i really care of you
I love you most

SK

Albert Camus

“Don’t walk in front of me; I may not follow. Don’t walk behind me; I may not lead. Just walk beside me and be my friend.”

“You will never be happy if you continue to search for what happiness consists of. You will never live if you are looking for the meaning of life.”

“I would rather live my life as if there is a God and die to find out there isn’t, than live my life as if there isn’t and die to find out there is.”

“Charm is a way of getting the answer yes without asking a clear question.”

“Nothing is more despicable than respect based on fear.”

“In order to exist just once in the world, it is necessary never again to exist.”

“You meet people who forget you. You forget people you meet. But sometimes you meet those people you can’t forget. Those are your ‘friends.’”

“A friend is someone who knows the song in your heart and can sing it back to you when you have forgotten the words.”

“A real friend is one who walks in when the rest of the world walks out.”

“A true friend is someone who thinks that you are a good egg even though he knows that you are slightly cracked”

“The most beautiful discovery true friends make is that they can grow separately without growing apart.”

Link URL: http://thinkexist.com/quotation/don-t_walk_in_front_of_me-i_may_not_follow-don-t/8528.html

Happy Life

Aku pernah melihat foto seorang anak yang sangat kurus sekali sampai tulangnya kelihatan sedang makan biskuit dan disebelahnya ada seekor burung gagak kalau tidak salah foto itu diambil dari Afrika. Di negara yang dilanda kelaparan pandangan hidup layak menurut mereka adalah mendapatkan makanan yang bergizi dan kehidupan yang layak. Layak disinipun sangat sederhana sekali yang terpenting bagi mereka ada air, ada tempat berteduh dan adanya makanan yang cukup. Di negara penuh konflik seperti Afganistan, kebetulan aku punya teman chatting dari Afganistan. Hidup bahagia menurut dia adalah hidup yang tenang tidak ada suara tembakan tidak ada dentuman bom tidak ada larangan untuk mematikan listrik pada malam hari, adanya kebebasan berjalan di tempat umum, adanya jaminan keamanan. Di Indonesia dengan kesenjangan ekonomi yang sangat tinggi membuat standar hidup layak berbeda-beda. Ada yang cukup dengan makan sekali sehari, ada yang cukup dengan makan dua kali sehari, ada yang cukup kalau makan 3 kali sehari, ada yang cukup kalau dia bisa membayar tagihan bulanannya, ada yang cukup kalau bisa beli mobil, rumah dan sebagainya.Kalau kita merenung sejenak berintropeksi diri ternyata masalah-masalah yang kita hadapi saat ini bukanlah apa-apa dibandingkan jika kita memandang dunia ini secara makro. Kadang kita terlalu egois hanya memikirkan perasaan atau pikiran yang kita geluti. Bukankah sebenarnya kita semua sudah banyak diberi karunia oleh Tuhan. Belajarlah bersyukur mengenai hal-hal kecil yang diperoleh setiap harinya maka ketika kita mendapatkan yang besar hati kita akan penuh dengan suka cita. Hidup layak berbeda-beda sesuai dengan orang itu sendiri tapi setidaknya kita bisa mulai dari bersyukur karena dengan bersyukur bukan hanya hidup layak yang kita dapatkan tapi juga hidup bahagia.

Wisuda

Dulu sebelum aku menjadi dosen bayanganku tentang profesi dosen sangatlah berbeda dengan kenyataan yang aku hadapi sekarang. Dulu aku membayangkan menjadi dosen hanya fokus pada materi ajar, mengajar mahasiswa, selesai. Tapi ternyata menjadi dosen tidaklah mudah apalagi ditambah jabatan sebagai sekretaris jurusan. Setiap hari ada saja yang harus dikerjakan seperti rapat manajemen, membuat proposal kegiatan, membuat penelitian, ikut dalam berbagai projek dikampus, berdebat dengan manajerial, bimbingan KP, bimbingan skripsi bahkan aku tidak sempat untuk membuat materi ajar di kampus. Aku harus meluangkan waktuku di akhir minggu untuk membuat materi ajar karena hanya itulah waktu luang yang bisa ku gunakan. Minggu kemarin hari Wisuda mahasiswaku dan aku dilibatkan sebagai panitia. 2 minggu sebelumnya diadakan gladi kotor, lalu gladi resik, persiapan akhir dan semuanya sangat melelahkan. Belum lagi harus mencari blaser hitam ke mall karena aku hanya punya blaser warna abu-abu. Hari H pun akhirnya terjadi di ruang sidang senat aku mendengar lagu himne mahasiswa, orang tua dan wisudawan duduk rapi di kursi nya masing-masing, pejabat pemerintahan dan rektorat memberikan sambutan, akhirnya saat-saat yang ditunggu pun tiba. Satu persatu mahasiswaku dipanggil untuk maju ke depan auditorium diwisuda oleh dekan mereka masing-masing, foto mereka muncul satu persatu dilayar. Saat itulah aku benar-benar merasakan kepuasan menjadi dosen. Rasa bangga menyelimuti sanubariku, semua perasaan lelah letih kesal dan kepenatan yang kurasakan 6 bulan terakhir rasanya terbayar sudah. Jadi dosen tidaklah mudah tetapi kepuasan yang dirasakan saat melihat mahasiswa berhasil di wisuda dan mengantarkan ke era selanjutnya dalam hidup mereka membuat aku merasa hidup. Setidaknya dibalik semua ke gagalanku ada sesuatu yang bisa kulakukan terhadap perjalanan hidup mahasiswaku.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.